Wednesday, December 7, 2016

Review "Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura"

Review Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura


Halo-halo para pembaca Ama-Ra’s, kita ketemu lagi di acara ______ (isi sendiri), haha. Kali ini sayang akan mereview tempat makan sekaligus makanan dari salah satu street food di Jogja nih, nama tempatnya “Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura”

“Eh, di warung itu dia jual apa sih?”
“Jual steak bro, tapi steak-nya ditusuk sebelum di-grill”
Hahaha.

Dilihat dari namanya pun sudah kelihatan kalo tempat ini jualan sate ayam sama sate kambing, haha. Tau sate kan? Sate itu adalah daging yang ditusuk ke suatu benda lalu disusun, kemudian dibakar. 

“Bakar! Bakar! Bakar!” >>> (Anggap saja ada efek fireburn) hehe

Kalau setau saya, sate yang terkenal itu ada Sate Padang, Sate Lilit, Sate Madura, dan Sate Ayam Ponorogo. Sate itu sudah tersebar kemana-mana. Ini salah satu contohnya, di Jogja ada Sate Madura, di Jogja juga bahkan ada Sate Ayam Ponorogo. Ada yang menarik nggak sih dari namanya?

“Ada yang unik nggak sih dari namanya?”
“Iya ada”
“Apa?”
“Nggak tau”
"Ingin berkata kasar...(This Content Has Beed Deleted)" hahaha

Okay, memang ada sesuatu yang unik dari namanya, yaitu penggunaan kata “Cak” sebelum nama, yaitu “Beiry”. Cak itu merupakan panggilan akrab untuk laki-laki (yang dianggap teman) atau bahkan orang yang belum dikenal sekalipun di Surabaya dan sekitarnya. Cak seperti kata “dab” di Jogja (walaupun sangat jarang orang yang memanggil saya dengan kata “dab” di Jogja, entah kenapa :D). Kenapa “Beiry” hal ini karena.... nama dari penjualnya adalah Beiry. 

Saya mencoba menerka-nerka nih arti dari namanya. Dari segi bahasa, be berarti menjadi, iry adalah iri, jadi Beiry adalah menjadi iri atau menjadikan pembeli iri dengan penjual atau menjadikan penjual lain iri dengan dia (ngasal aja, wkwk) atau mungkin lebih dekat dengan Berry, atau buah berry yang digemari banyak orang. Mungkin orang tua dari si penjual ingin anaknya terkenal :D

Oiya tulisan ini saya buat menurut pendapat pribadi saya, sehingga bisa disebut subjektif, namun saya selalu berusaha menilai sesuatu dengan se-objektif mungkin dan menurut pengalaman yan terjadi sebenarnya. Saya akan selalu menggunakan range 0-10 (dengan makanan 60%, tempat 20%, dan service 20%) untuk menyampaikan penilaian ya. Cekidot!

Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura terletak di sebelah barat perempatan sagan, kalau dari arah timur kanan jalan, kalau dari barat juga kanan jalan (ya kiri jalan lah), haha. Tau perempatan sagan nggak? Kalo nggak tau berati cupu loe-coret, haha. Ini nih, saya sempat memfoto perempatan sagan :


Pokoknya cari saja di sebelah barat dari perempatan sagan, pasti ketemu, soalnya warna yang digunakan cukup mencolok (kuning). Kalau masih kurang jelas, tempat ini terletak di timur Kosudgama (nah pasti tau kan) kurang jelas lagi? depan PT. BPR UGM itu loh. Kalau masih kurang jelas juga (kebangetan banget sih, wkwk) ini ada mapsnya :


Saya terakhir kesana hari Minggu, 4 Desember 2016 (belum lama), dan yang paling penting, saya kesana “sendirian”.

“sendirian...sendirian...sendirian” (bayangkan kamu sedang menontong spongebob episode alone) haha.

Saya memang kesana sendirian tapi tidak masalah (nggak penting juga sih saya kesana sama siapa) haha. Tapi serius saya pengen cerita masalah ini karena setelah saya datang kesana lalu duduk, sekitar 5 menit kemudian ada 5 pemuda dengan baju yang “hits” dan “kekinian” bilang ke saya :

“Mas, bagi tempat duduknya ya”
“Iya mas gapapa”

Setelah kedatangan 5 orang mas-mas itu, saya lalu ingin cepat pulang (You know lah alasannya, haha)

Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura ini tergolong “Street Food” karena letaknya yang di pinggir jalan (re: trotoar), dan sebelumnya saya minta maaf juga karena lupa nggak mem-foto menunya (hiks T,T) karena memang nggak ada daftar menunya, haha. Hal ini merupakan hal yang lumrah terjadi karena di depan (di spanduk) sudah dituliskan si penjual jualan apa (re: sate ayam & kambing).

Waktu itu saya memesan Sate ayam, Nasi putih, dan teh angeh (hangat) dan menghabiskan dana sebesar Rp 18k untuk melunasinya (Ceilehh bahasanya). Rincian : Sate ayam (Rp 14k), nasi putih (Rp 2k), teh anget (Rp 2k) sehingga totalnya 18k. Nah, sebelum ini, saya juga sudah pernah makan disini dengan teman-teman saya. Waktu itu saya memesan sate kambing (Rp 16k), lontong (Rp 2k), dan teh anget (Rp 2k) sehingga total 20k. Terdapat selisih 2k lebih mahal untuk sate kambing dibanding sate ayam (hal yang cukup wajar, mengingat harga daging kambing memang lebih mahal dari daging ayam). Oiya, harga sate di atas mendapat 1 porsi sate ya a.k.a 10 tusuk sate (tusuknya doang, haha). Foto dari sate ayam, nasi putih, dan teh angetnya adalah sebagai berikut :



Makanan (60%) :
1. Flavour : 8/10
2. Apperance : 6/10
3. Tekstur : 6/10

Dari segi flavour (rasa dan aroma), sate ini memiliki rasa yang sudah baik, baik dari segi daging maupun dari segi bumbu. Daging dari satenya sendiri sudah terasa dengan bumbu satenya sekaligus ditambah dengan rasa dari bumbunya. Rasa dari bumbu sate ini sendiri tidak terlalu pedas. Jadi, saya sarankan untuk para penyuka pedas untuk menambahkan sambal atau menambahkan potongan cabe (bukan cabe-cabean, tapi iya juga gapapa sih wkwk) yang sudah disediakan. Nah, satu lagi, untuk melengkapi bumbu tadi, penjual selain telah menyiapkan potongan cabe dan sambal, penjual juga menyiapkan potongan bawang merah mentah yang akan menambah flavour dari bumbu dan sate yang dimakan. Bumbu dari sate ini dan bawang merah bisa dibilang nge-blend banget atau cocok berdampingan dan bersama (harapan agar segera naik pelaminan, apasih wkwk). Jadi intinya, bumbu sate ini akan perfect jika diberi tambahan irisan bawang merah mentah. Hal inilah yang membuat saya memberi nilai 8/10 untuk flavour.

Dari segi apperance, saya kurang suka penataan satenya yang terkesan kurang rapi. Di dalam foto di atas terlihat bahwa tusuk sate pada ujung yang dapat dipegang seharusnya dijadikan 1 agar terlihat lebih rapi. Dari segi penataan bumbu dan satenya juga terkesan kurang rapi. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat itu (saat saya kesana) pembelu sedang ramai, sehingga penjual mungkin terburu-buru untuk menyelesaikan pesanan. Dari porsinya sendiri, menurut saya sudah cukup sesuai dengan porsi dari pria dewasa, namun tentu kurang untuk anak kos (re: diri sendiri) haha. Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 6/10.

Dari segi tekstur dari bumbu satenya, sangat saya suka karena masih ada efek kacang yang belum hancur sempurna, sehingga menunjukkan kesan bahwa “Ini ada kacangnya loh”. Namun 1 hal yang kurang saya suka adalah pada waktu itu, daging ayam yang saya makan masih undercook atau sedikit kurang matang, sehingga menyulitkan saya untuk memakannya (teksturnya masih sedikit alot). Hal ini mungkin juga terjadi karena penjual yang terlalu terburu-buru untuk mengejar pesanan dari pembeli agar cepat selesai, sehingga kualitas justru menurun. Padahal, pada waktu lain saya berkunjung, waktu itu tekstur daging juga baik. Hal ini menunjukkan suatu ketidakkonsistenan dalam hal menentukan tingkat kematangan dari sate yang dijual. Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 6/10.

Tempat (20%) : 7/10

Dari segi tempat, tempat ini berlokasi di trotoar jalan, dengan atap diberi terpal, sehingga saya yakin aman jika turun hujan, dan disamping dan depannya ditutup dengan spanduk yang sekaligus berfungsi sebagai promosi. Saya sangat mengapresiasi penggunaan meja yang berwarna putih (seperti pada foto makanan di atas). Meja tersebut sangat mudah dibersihkan dan juga tidak rawan menyangkut dengan kotoran dan juga memberikan kesan bersih. 1 hal yang perlu diperhatikan adalah karena lokasi pembakaran sate ada di pinggir jalan, sehingga polusi dari kendaraan bermotor sedikit banyak pasti ada yang menempel ke bahan (Ya namanya street food ya gan, tapi kalau bisa menjadi lebih baik, why not?). Coba lihat foto di bawah :



Alangkah lebih baik jika diberi penutup (bisa dari seng) agar tidak berkontak langsung dengan udara luar dan polusi dari kendaraan bermotor yang lewat, mengingat lalu lintas di perempatan sagan yang cukup ramai.

Service (20%) : 7/10

Dari segi service, pesanan datang dengan cepat, sehingga tidak membuat pembeli menunggu terlalu lama (namun juga tetap harus diperhatikan, tingkat kematangan dari satenya juga). Untuk kelengkapan alat makan disana ada garpu dan sendok. Untuk pelengkap bumbu disediakan sambal (1 mangkuk per meja) dan irisan cabe dan irisan bawang merah (dalam 1 mangkuk, 1 mangkuk per meja) dan 1 mangkuk per meja saya kira sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pembeli. Sayangnya, tidak ada pemisahan antara mangkuk irisan bawang merah dengan irisan cabe, sehingga terkadang ada 1 mangkuk yang isinya hanya irisan cabe saja karena irisan bawang merahnya sudah ludes. Berikut adalah foto dari sambal dan irisan cabe dan bawang merah :



Selain itu, disediakan juga wadah berupa keranjang plastik sebagai wadah dari tusuk sate yang satenya sudah dimakan. Hal ini penting untuk mencegah pembeli membuang tusuk satenya ke sembarang tempat dan saya sangat mengapresiasi hal ini. Selain itu disediakan juga sedotan, tusuk gigi, dan tisu. Sedotan berguna untuk mempermudah meminum minuman yang dipesan. Tusuk gigi juga merupakan hal penting, terutama untuk makanan berupa daging karena akan sangat sering daging itu “nyelilit” a.k.a “nyangkut” di gigi, sehingga dibutuhkan tusuk gigi. Memakan sate akan seru jika kita memakan langsung dari tusuknya, dan jika tidak hati-hati, sebagian bumbu akan menempel ke bibir atau mungkin pipi sehingga dibutuhkan tisu untuk mengelapnya. Untuk tisunya sendiri, penjual menggunakan tisu kotak (tidak menggunakan tisu berbentuk silinder a.k.a tisu toilet) dan saya juga mengapresiasi hal ini. Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 7/10 untuk service.

Overall penilaiannya adalah :

Makanan (60%) :
1. Flavour : 8/10
2. Apperance : 6/10
3. Tekstur : 6/10
Makanan : 4

Tempat (20%) : 7/10
Tempat : 1,4

Service (20%) : 7/10
Service : 1,4

Sehingga poin total menjadi : 4 + 1,4 + 1,4 = 6,8/10

(Overall Point : 6,8/10)

Sebagai penutup, saya menyukai sate dari Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura ini, hanya saja terdapat bagian-bagian tertentu yang perlu untuk diperbaiki sehingga bisa menjadi lebih baik. Saya mengapresiasi sebagian hal yang dilakukan, seperti penggunaan tisu yang benar, meja yang bersih, yang bisa saja menginspirasi penjual untuk meniru dan bahkan melakukan yang lebih baik. Oiya hampir lupa, bagi para penikmat sate, jangan lupa untuk selalu mematahkan tusuk sate yang sudah selesai digunakan karena ada sebagian penjual sate “nakal” yang akan menggunakan bekas tusuk sate tersebut untuk membuat sate lagi (kan jijay cyin), selain itu penggunaan tusuk sate bekas ini juga berpotensi menimbulkan penyakit. Oiya satu lagi, hehe, setelah makan sate, ada baiknya anda-anda semua atau kamu-kamu semua memakan buah yang kaya antioksidan.

“Tau nggak kenapa?”
“Nggak tau kakak”

Hal ini karena sate menggunakan pemasakan dengan cara dibakar. Pembakaran merupakan proses pengolahan yang akan menimbulkan warna hitam atau gosong (atau bisa disebut jelaga) yang itu merupakan sumber dari radikal bebas. Nah, untuk menangkal radikal bebas tersebut, diperlukan zat antioksidan.

Sekilas foto dari Sate Ayam & Kambing Cak Beiry Madura



Maafkan kesalahan kata atau penulisan, dan maaf jika tidak berkenan di hati pembaca. Salam AMA-RA! 


EmoticonEmoticon

Post Terbaru

5 Negara yang Tidak Memiliki Pasukan Militer

5 Negara yang Tidak Memiliki Pasukan Militer Halo gan sist, Menurut wikipedia, militer adalah angkatan bersenjata dari suatu nega...