Sunday, December 4, 2016

REVIEW "MIE AYAM KAMEHAME"

REVIEW "MIE AYAM KAMEHAME"


Hi guys! Ini pertama kalinya saya menulis review tentang tempat makan dan makanannya, dan sorry kalau agak sotoy (re: sok tau). Nggak papa ya, karena sotoy itu enak (re: soto) apalagi kalo ditambah babat :D (pasti garing), wkwkwk. Oiya tulisan ini saya buat menurut pendapat pribadi saya, sehingga bisa disebut subjektif, namun saya selalu berusaha menilai sesuatu dengan se-objektif mungkin dan menurut pengalaman yan terjadi sebenarnya. Saya akan selalu menggunakan range 0-10 (dengan makanan 60%, tempat 20%, dan service 20%) untuk menyampaikan penilaian ya. Cekidot!

Oke kita langsung saja ke topik utama kita. Kali ini, saya akan membahas tentang salah satu makanan yang lagi hits di Jogja. Apakah itu?

“Buruan, aku pengen tahu nih”
“Ah masa? Kalo aku sih pengen tempe”
(abaikan 2 kalimat di atas)

Jeng jeng jeng..... ya, itu adalah “MIE AYAM KAMEHAME”. Tahu kan kamehame? Beneran nggak tahu nih? Aku tempe soalnya. Kamehame adalah jurus andalan dari karakter utama dalam Dragon Ball, seperti Son Goku, Son Gohan (anaknya Goku, kalau nggak salah), Vegeta (semacam obat untuk melancarkan pencernaan. Re: eek), dan lain-lain. Gini-gini saya juga pernah main Dragon Ball waktu SD di PS 1 loh, dan saya kalah terus karena cukup sulit untuk mengeluarkan kamehame di game itu. Ya namanya jurus andalan ya pasti susah lah ya (sorry oot).

Mie Ayam Kamehame ini terletak di Jalan Urip Sumoharjo (tapi biasanya temen-temen menyebut Jalan Solo) ya apalah itu ya, pokoknya itu jalan yang ada Empire XXI itu loh. Nah, Mie Ayam Kamehame ini terletak di agak sedikit timurnya depan (intinya nggak tepat di depannya, hehe) Hotel Grand Aston Yogyakarta.


Penampakan Hotel Grand Aston Yogyakarta

Untuk mapsnya bisa dilihat di bawah :




Suasana dari mie ayam ini sendiri cukup ramai pada waktu itu (re: banyak pembeli disana), padahal malam itu sedang hujan (Senin, 28 November 2016). Mie Ayam Kamehame ini buka sekitar pukul

Saya mencoba menerka-nerka nih, kenapa namanya kok ada “Kamehame-nya”. Apa jangan-jangan ada cosplayer yang memakai kostum Son Goku disana? (imajinasi berlebih, tapi mungkin saja :D), atau setelah makan kamu akan di-kamehame oleh yang jual wkwk, atau cuma diteriakin “KA-ME-HA-ME-HA” (garis hubung – menandakan pengucapan yang patah-patah atau ada jedanya wkwk) oleh si-Penjual, ini masih dipertanyakan. Sebenarnya saya kesan juga karena diajak oleh teman saya yang mencicipinya karena penasaran dengan makanan yang lagi hits ini.

Mie Ayam Kamehame ini tergolong “Street Food” karena letaknya yang di pinggir jalan (re: trotoar/emperan toko), dan sebelumnya saya minta maaf juga karena lupa nggak mem-foto menunya (hiks T,T), tapi saya akan mencoba menuliskan yang saya ingat dari daftar menu, mengingat ingatan saya yang cukup baik ini (re: kebalikannya wkwk).

Mie Ayam Tengah Malam (lvl 0) : Rp 10k
Mie Ayam Kamehame (lvl 2) : Rp 12k
Mie Ayam Saiya (lvl 4) : Rp 14k
Mie Ayam Super Saiya (lvl 6) : Rp 16k
Mie Ayam Z (lvl 10) : Rp 18k/20k (lupa hehe :peace:)
Ekstra Sawi : Rp 2k
Ekstra Ayam : Rp 3k/4k (lupa hehe :peace:)
Ekstra Telur : Rp 3k/4k (lupa hehe :peace:)
Teh anget (hangat) : Rp 2k

Level (lvl) di atas yang dimaksud adalah.....

Ya, anda benar sekali, 100 untuk anda, itu adalah tingkat kepedasan dari mie ayamnya. Jadi arti dari kamehame yang saya tangkap adalah karena setelah makan mie ayam ini, bibir dan perut anda akan terkena kamehame (ini serius loh, haha), setelah makan mie ayam ini mulut saya serasa terbakar (bukan terbakar cemburu, apalagi cemburu buta wkwk), perut saya panas, dan karena besoknya saya langsung ke-WC beberapa kali karena ini (ditambah lubang “itunya” rasanya panas sekali :D). Oiya, maksud dari mie ayam tengah malam adalah karena mie ayam ini buka pada malam hari sampai pagi hari (maybe) yang sebenarnya tidak terlalu nyambung juga dengan tema Dragon Ball yang diangkat (hehe).

Waktu itu saya memesan Mie Ayam Saiya dengan level kepedasan 4 dengan teh anget (hangat), teman-teman saya yang lain memesan Mie Ayam Kamehame dengan level kepedasan 2. Level 4 menurut saya sudah cukup pedas untuk penyuka pedas tingkat pemula seperti saya, hehe. Namun waktu itu, pengunjung disana cukup ramai dan bahkan ada yang memesan Mie Ayam Z dengan level kepedasan 10 (WoW. re: siap-siap beli obat diare aja ya mas wkwk). Oiya, di Mie Ayam Kamehame ini penjual hanya menyediakan saus dan kecap, tanpa adanya sambal, tidak seperti warung mie ayam biasanya. Hal ini dimungkinkan karena sambal sudah langsung dimasukkan dalam mie ayamnya dan meminimalisir kecurangan dari pembeli (pembeli yang suka pedas membeli mie ayam lvl 0 dan menambahkannya dengan sambal dengan jumlah banyak) walaupun saya yakin, rasanya tetap akan berbeda.

Makanan (60%) :
1. Flavour : 7/10
2. Apperance : 7/10
3. Tekstur : 7/10

Dari segi flavour (rasa dan aroma), menurut saya cukup baik. Penjual menggunakan variasi rasa pedas yang memang berbeda-beda dalam tiap levelnya. Menurut teman saya Mie Ayam Kamehame ini tidak lebih baik dari “mie ayam biasa” yang ditambah sambal yang banyak, tetapi menurut saya berbeda. Mie Ayam Kamehame ini diracik oleh penjual sendiri yang tentu sudah mempunyai resep tersendiri sehingga membuat rasa pedas dari mie ayam ini memiliki rasa yang khas dan memiliki kesesuaian dengan komponen-komponen lain dari mie ayam ini, seperti mie, ayam, dan sayurnya (sawi). Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 7/10 untuk flavournya. Foto dari mie ayam saiya adalah sebagai berikut :


Foto itu saya ambil ketika saya sudah mengaduk mie ayamnya sehingga terlihat berantakan, seharusnya saya memfoto sebelum saya mengaduk mie ayamnya (sorry). Sebenarnya, apperance atau kenampakan atau platting dari mie ayam ini sudah baik, dimulai dari digunakannya mangkuk sebagai wadah, dan juga penataan mie, kuah, dan ayamnya. Sayangnya, sayur (sawi) dari mie ayam ini tidak terlihat ketika kamu melihat semangkuk mie ayam ini sehingga terkesan “ada yang kurang” (mungkin penjual tidak terlalu memperhatikan hal ini, mengingat ini merupakan “street food”, namun alangkah lebih baik jika penjual juga memperhatikannya). Dari segi porsi, yang akan mempengaruhi kenampakan tentunya, sudah sangat tepat, namun bagi anak kos (re: diri saya sendiri) porsi segitu mungkin masih kurang, haha. Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 7/10. Oiya, kuah dari Mie Ayam Kamehame ini langsung dicampurkan dengan komponen lain ya, tidak dipisah.

Dari segi tektur dari sayurnya (sawi), sudah cukup baik dan tidak dimasak berlebih (re: overcook) sehingga tekstur dari sawi masih terasa. Tekstur dari ayamnya sendiri menurut saya juga cukup baik dan masih terasa. Untuk mienya sendiri, sepertinya penjual menggunakan mie buatan sendiri dan tekstur mienya sangat lembut (salah satu yang saya suka) namun, bentuk dari mienya tidak beraturan dan ada bagian dimana sebagian mie tidak terpisah dengan sempurna (cukup mengganggu). Hal inilah yang mendasari saya memberi penilaian 7/10 untuk tekstur.

Tempat (20%) : 6/10

Dari segi tempat, mengingat letaknya yang di pinggir jalan, dan hanya beratapkan emperan toko tentu sangat rawan terkena air hujan (apalagi sekarang musim hujan) dan menggunakan “kloso” atau tikar untuk tempat duduk. Sebenarnya hal ini merupakan hal standar bagi tempat makan di pinggir jalan. Salah satu yang saya sayangkan adalah penjual tidak memiliki alternatif tempat saat hujan (misalkan, pembeli dipindah ke suatu tempat atau suatu emperan toko yang lebih lebar). Hal ini mungkin berkaitan juga dengan pembagian wilayah jualan disana (saya tidak tahu). Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 6/10 untuk tempat.

Service (20%) : 6/10

Dari segi service atau pelayanan, saya cukup mengapresiasi penjual karena mereka melayani pembeli dengan cukup cepat sehingga tidak membuat pembeli menunggu terlalu lama. Saat saya kesana, saat gerimis, dan membuat saya teringat akan kenangan masa lalu yang manis (ceileehhh). Waktu itu ada yang ingin duduk di bawah langit hujan, dan penjual tidak mengingatkannya agar tidak duduk disana. Untuk kelengkapan alat makan, penjual sudah cukup lengkap menyediakannya, seperti sumpit, sendok, dan garpu, tusuk gigi, juga kecap dan saus sebagai bumbu pelengkap. Namun satu kekurangan, adalah tidak adanya tisu, padahal rasa pedas dari mie ayam ini sangat menyengat sehingga akan membuat pembeli “mbeler” atau keluar “umbel-nya” atau keluar ingus dan keringat. Tidak adanya makanan pelengkap lain, seperti kerupuk juga menjadi pertimbangan, mengingat rasa pedas dapat dikurangi dengan kerupuk. Hal inilah yang mendasari saya memberi nilai 6/10 untuk pelayanan.

Overall, penilaiannya adalah :

Makanan (60%) :
1. Flavour       : 7/10
2. Apperance : 7/10
3. Tekstur      : 7/10
Makanan : 4,2

Tempat (20%) : 6/10
Tempat              : 1,2

Service (20%) : 6/10
Service : 1,2

Sehingga poin total menjadi : 4,2 + 1,2 + 1,2 = 6,6/10

(Overall Point : 6,6/10)

Sebagai penutup, saya sebenarnya melihat potensi dari Mie Ayam Kamehame ini untuk berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik, jika penjual menyadari kekurangan yang dimiliki dan memperbaikinya. Saya pribadi, jika diajak teman untuk makan di Mie Ayam Kamehame ini, saya mau  tetap :D . Oiya, jangan lupa siapkan uang receh jika ingin makan disini ya, banyak pengamen yang memiliki suara bagus (ini serius) dengan alat musik yang lumayan lengkap namun juga ada ladyboy (re: bencis cyiin) dengan suara yang “you know lah”.

Sekilas foto dari mie ayam kamehame ini :


Suasana "kala itu" di Mie Ayam Kamehame. Saat itu sekitar pukul 23.30 dan keadaaan sedang gerimis. Foto diambil dari salah satu sudut Mie Ayam Kamehame


Penjual kopi yang berdampingan dengan mie ayam kamehame (saya melihat alat yang dimiliki oleh penjual kopi ini cukup baik, namun saya tidak sempat mencobanya).

Maafkan kesalahan kata atau penulisan, dan maaf jika tidak berkenan di hati pembaca.
Salam AMA-RA!

This Is The Oldest Page

1 comments so far


EmoticonEmoticon

Post Terbaru

5 Negara yang Tidak Memiliki Pasukan Militer

5 Negara yang Tidak Memiliki Pasukan Militer Halo gan sist, Menurut wikipedia, militer adalah angkatan bersenjata dari suatu nega...